2 Minggu Pertama di Situbondo

22 02 2011

Hoahhmm… Ternyata sudah 2 pekan kami disini. Sudah merasakan sedikit tentang kota kecil yang bernama Situbondo. Awal, saya berpikir kota ini adalah kota yang sangat sederhana (yah mungkin memang sih kenyataannya). Namun, kesederhanaan ini membuat kota ini begitu tenang. Bayangkan saja, ba’da maghrib sudah sulit untuk mencari sebuah toko yang menyediakan fasilitas fotokopi. Tanpa Mall, tanpa bioskop. Humm, bertambah saja kesederhanaan yang terpancar dari kota ini.

Dan 1 pekan terakhir ini, kami sudah mulai berkutat dengan pekerjaan rutinitas kami yang akan kami jalani selama 1 tahun kedepan. Bekerja sebagai penyedia layanan kesehatan, baik di puskesmas maupun di Rumah Sakit. Kebetulan, saya selama satu minggu ini mendapatkan tugas di Ruang Anak RSUD Abdoer Raheem. Ruangan teratai sebagai nama dari ruang rawat inap anak. Dengan jumlah pasien sekitar 12 orang, setiap pagi saya mendapatkan tugas untuk melakukan visite (mem-follow up pasien).

Tugas visite yang kami jalani ternyata sedikit berbeda dibandingkan ketika saya menjadi dokter muda di RSU Dr. Soetomo. Disini saya benar-benar diposisikan sebagai seorang dokter, sehingga banyak perawat yang membantu saya dalam menjalani pekerjaan saya.

Sebenarnya saya tertarik dengan beberapa pasien yang saya rawat selama 1 pekan ini. Seperti seorang pasien dengan meningoencephalitis. Sudah beberapa hari pasien tersebut menemani saya di sal Anak RSUD Abdur Raheem. Dari awalnya yang kejang terus menerus dan tidak sadar, kondisi pasien ini sekarang berangsur membaik. Namun, apa yang kami usahakan sudah maksimal, hanya saja disini, infrastruktur yang bisa menolong kami untuk memberikan pelayanan yang lebih belum mencukupi. Pasien ini sudah mengalamai sequelling pada otaknya, dengan arti adalah terjadi kerusakan yang permanen pada otaknya. Hampir tidak bisa dibayangkan, bagaimana kesedihan yang akan ibunya rasakan. Bahkan, suatu ketika saya visit pasien ini pada suatu hari, saya sempat melihat kedua mata sang bunda berlinangan. Dalam sesenggukan tersebut sang ibu seraya berkata, “Dok, tolong sembuhkan anak saya…”. Betapa hati ini bergetar.. Putri satu-satunya yang dimiliki, yang baru berumur beberapa bulan saja, kini terbaring lemah di rumah sakit. seluruh kaki dan tangannya kaki, bahkan sesekali tangan dan kaki itu bergetar.. Telapaknya yang terus tergenggam. Tak ada suara yang bisa keluar dari kedua bibir mungilnya… Ya Allah, ujian yang luar biasa yang kau berikan kepada sang ibu. Dari balik jendela, saya pun pernah mengintip sang ibu yang bersujud di sebelah putrinya. Dan doa tulus (yang tidak bisa saya dengar apa yang terujar) yang pastinya berharap yang terbaik untuk putrinya itu.

Yah.. itulah sekelumit kisah yang saya alami 2 pekan pertama di sebuah kota baru yang bernama Situbondo ini. Cerita tentang kasih sayang ibu, kecintaan ibu kepada putranya selalu menghiasi cerita selama 2 pekan ini. Humm… ada yang terlewat..Sekarang, saya memiliki sebuah rutinitas baru… menyiapkan sarapan dan makan malam. Ternyata, berat untuk selalu menyiapkan sarapan tepat pada waktunya.. Pagi-pagi menanak nasi, menyiapkan lauk. Begitu pula malamnya. Sehingga terngiang saya dengan kenangan-kenangan ketika bersama ibu saya yang tercinta, yang jam berapapun saya ingin keluar dari rumah, ibu selalu siap untuk menghidangkan sarapan. Saya masih ingat betul, ketika ada sebuah acara, dan saya harus keluar dari rumah jam 5 pagi pun, ibu berkata, “nak, sarapan dulu, itu udah siap di meja makan”. Saat itu saya masih tidak berpikir terlalu panjang. Kini saya sadari sendiri betapa rutinitas itu begitu berat… Hingga sekali lagi (entah sudah berapa kali saya mengatakan) saya mengatakan, Ibu, Engkau Hebat… Dan akan saya katakan seperti  itu untuk seterusnya. Terima kasih ibu, ke ontime-an untuk menyiapkan sarapan telah sangat membantu putramu untuk bisa seperti sekarang. Dan ibu, semoga istriku nantinya pun, bisa mencontoh keteguhan-keteguhanmu…. (Aminnnn)

Yawdah deh.. nyiapin sarapan dulu. Hehehhe… Semoga berkesempatan untuk menulis dan berbagi lebih banyak. Jalan ini masih panjang dan melelahkan, namun yakinlah, diujung jalan ini ada cahaya yang terang yang memberikan pencerahan.

 

Advertisements

Actions

Information

3 responses

23 02 2011
cintaniati

Memang pak, kerasa banget kehebatan ibu kita saat kita jauh dari mereka. You don’t know what you’ve got until you say goodbye *sedang merasakan hal yang sama*

6 03 2011
maritsaniswah

Subhanallah.. pengalaman luar biasa itu bang.. Berada di wilayah yg infrastrukturnya tak sekomplit Surabaya.. Dituntut untuk lebih sigap dan mandiri..
Hmm.. btw,, stuju bgt.. Ibu memang luar biasa.. 🙂

– Semoga senantiasa dalam lindunganNya, dok.. Keep hamasah!! 😀 –

24 05 2011
zainmujahid

Jazakumullah buat semangatnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: